Jangan Biarkan Kebencian


Rasa benci yang kamu pelihara, secara perlahan akan menyerang satu per satu organ tubuhmu. Dan kau akan menjadi penyakitan. Wajah menawanmu akan kelam. Secara berangsur pesonamu terlihat pahit dan getir. Segala aura keindahan manusia yang melekat padamu lepas, menjauh meninggalkanmu karena segala unsur keelokan karunia akan enggan bersemayam padamu. Oleh demikan, jangan biarkan kebencian menggorogoti atau menyentuh hatimu.

                Kemarahan menjadi awal dari kebencian itu. Jika dirimu kesal, jangan lantas dibiarkan menjadi bibit yang tumbuh dan berkembang di pelupuk hatimu. Berusahalah untuk bebas dari rasa marah. Jangan kau pendam atau bahkan menabungnya hingga setinggi gunung. Kemarahan secara cepat atau lambat akan menyesakkan kalbumu sehingga sewaktu-waktu dapat membuat lingkungan pun akan meningkat membencimu.

Ingat hal-hal positif dari hidupmu. Bersyukurlah senantiasa karena akan mengantarkanmu kepada insan yang berjiwa positif. Kamu akan menjadi pribadi tenang yang membawamu pada kearifan berpikir dan bertindak dari suatu waktu pada sebuah ujian-ujian kehidupan. 

Jadi, jangan biarkan kebencian menggorotimu. Jika kamu lengah, kebencian itu akan melahirkan kebencian baru. Biarkanlah cinta kasih dan sikap positif terpatri menggenggam sanubarimu.

Peran Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Kreativitas



Pemahaman belajar bahasa dan sastra indonesia di sekolah sangat penting. Salah satu mata pelajaran yang di-UN-kan ini berkaitan erat dalam hal mengajarkan kreativitas. Aspek kreativitas itu diukur dalam empat keterampilan berbahasa, seperti mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Pertama, mendengarkan. Mendengarkan adalah ketampilan pertama dimiliki oleh manusia ketika awal lahirnya. Aktivitas ini menuntut siswa fokus, mampu menyerap setiap informasi dengan tepat. Guru secara langsung akan membelajarkan siswa untuk mengidentifikasi hal pokok atau inti dari keterangan yang diperdengarkan oleh siswa. Diharapkan dengan pembelajaran mendengarkan ini, siswa dapat mengasah indra pendengarnnya sehingga mampu menyerap banyak informasi dengan efektif.
Kedua, berbicara.  Keterampilan ini diklasifikasikan dalam tindakan produktif. Setiap siswa dapat berbicara dengan baik apabila memiliki perbedaharaan kosakata yang mumpuni. Tidak hanya itu, dalam berbicara siswa juga harus memeperhatikan gaya bicara sebagaimana halnya intonasi, lafal, nada, dan sebagainya.  Dengan demikian siswa dapat menyampaikan idenya melalui pendapat/ sumbangsih sarannya dengan ujaran yang runtut. Dengan terlatihnya kemampuan bicara ini, diharapkan siswa mampu berpikir dan bersikap kritis.
 Ketiga, membaca. Memahami setiap informasi dari bahan bacaan juga menjadi hal yang perlu diajarkan. Dengan membaca siswa dituntut tahu, mempelajari karakteristik setiap jenis tulisan dan pola pengembanganya.  Tentu saja hal itu akan bermuara pada pengetahuan berharga yang akan didapatnya dari hasil bacaan-bacaanya di buku, atau media informasi lainnya. Terakhir dengan keterampilan membaca secara tidak langsung akan memodali siswa dalam mengembangkan keterampilan menulisnya.
Keempat, menulis. Menulis menjadi keterampilan puncak yang harus dihasilkan oleh siswa. Menulis menjadi akumulasi kreatif dari ketiga keterampilan berbahasa sebelumnya. Dalam aktivitas menulis, siswa menyusun kata menjadi kalimat guna memproduksi sebuah karya tulis yang padu berdasarkan ide-ide yang dihasilkan oleh siswa.
Adanya pembelajaran bahasa dan sastra indonesia di sekolah, baik secara langsung ataupun tidak langsung akan menjadi semacam modal bagi siswa dalam kegiatan nyatanya sehari-hari. Boleh jadi, bahasa dan sastra indonesia merupakan aspek utama dari segala pembelajaran di sekolah dalam menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas. Tentu saja keempat keterampilan ini akan menjadi sangat efektif dan berdaya guna bila dibarengi dengan konsistensi belajar dan latihan.

Analogi Air dan Sedekah


Rhenald Kasali begitu cantik mengambil analogi antara sedekah dengan filosofi air yang mengalir. Air yang mengalir mempunyai kualitas yang baik, bersih, dan beroksigen. Sedangkan air yang tetap cenderung bau, kotor, dan berkualitas kurang baik.

Begitu juga dengan harta. Jika ditumpuk dan disimpan saja, harta akan serupa dengan air yang tetap. Namun, harta yang mengalir dengan disedekahkan, akan menjadikannya bersih, barokah, dan tentu saja akan bertambah berlipat-lipat.

Pada prinsipnya, bersedekah atau memberi adalah perbuatan yang membersihkan dan membuat hidup si pemilik harta lebih baik, sehat, dan bahagia.

Trilogi Kita


Kita dikaruniai waktu, tempat, dan keadaan yang sama.
Dari sebuah simpulan yang telah menggariskan kita dengan uang saku yang kurang lebih sama nominalnya.
Tapi bahagia menghampiri kita dengan begitu absolut.
Dengan isi kantong celana yang seirama kita dapat makan siang sambil bertarung mesra bertaruh tawa di satu tujuan.
Jika dihitung porsianya yang masuk ke perut, tentu bedalah dengan biasanya di rumah. Namun, kita kenyangkan oleh persamaan.
Sungguh luar biasa anugrah sang pencipta mengasihi kita.
Dengan keserupaan itu juga kita dapat selalu bergandengan cerita menyusuri tepi jalan ditemani putaran hari.
Kita sangat beruntung sebenarnya. Bayangkan, seandainya kita punya motor atau bahkan mobil kala itu. Bagaimana pula kita bisa mengucapkan hangatnya kisah siang dan menuai menawannya kemilau senja. Kita tidak akan pernah tahu itu.
Ini bisa dibilang sebentuk risiko yang membuat sejarah kita begitu cantik untuk dikisahkan sepanjang hidup.
Kita memang sudah dipersiapkan segalanya oleh sang maha pengatur. Bersyukur kita karena semuanya memang terlanjur luar biasa.
Terima kasih Allah.

Seusai Ramadan


Selama ramadan, sebulan penuh lambung dan hati bekerja dengan santai serta istirahat. Tapi, setelah itu, tepatnya selesai salat ied, dua organ tubuh itu kembali beraktivitas dengan intensitas yang sangat tingggi. Bahkan cenderung teprogram untuk kerja rodi.
Sang empu dua organ tubuh ini tengah bahagia dengan berbagai santapan 1 syawal. Pagi, siang, hinggga malam tidak lepas dari rutinitas konsumsi. Hari itu dikenal dengan kunjung-kunjungan bersilaturahim yang dibarengi dengan makan-memakan.

Hal itulah menyebabkan lambung dan hati kembali beraktivitas dengan sangat sibuk.  Lembur 24 jam penuh menghancurkan dan menyaring setiap apa yang dimakan tuannya.
Semoga lambung dan hati dapat memaklumi tabiat sang empunya selera dengan kerja yang ikhlas.

Kilometer, Doa, dan Amin...

Setiap deru nafas dalam langkah perjalananku
Ketika itu pula kubergumam merangkai doa
Jarak ribuan kilometer kutempuh dengan alunan harapan untuk rindu yang menjulang
Terik dan kasarnya sapaan rintik kian membuatku bergelut dalam hasrat yang palung
Agar kudiberikan kesempatan bisa menyampaikan:
“Aku akan selalu menyayangimu.”
Aku kan bertarung demi itu, atas nama kelanjutanku
Semoga nafas yang  masih berhembus menyemangati impian ini
Dan aku kan terus bermohon dalam nyawa yang bertahta:
 “Sayang, semoga kita segera dipersuakan sang pencipta
Amin....”

MIMPI

Aku bermimpi punya rumah
Rumah masih dengan latar sawah
Sawah membaris hijau dengan kecipak air nan merdu
Merdu senyaring anak dan istriku dalam suara
Suara tawa yang membahana hiasi keluarga baruku

Aku juga bermimpi indah manakala itu hujan menghampiri
Menghampiri kesejukan di teras rumah ditemani hangatnya teh  dengan sebungkus roti gabin sambil
mendengar lantunan bunyi
Bunyi teriakan anakku sembari melompat-lompat
Lompatan usai terbitkan tanya tentang segala apa
Apa yang diamati dan dirasa
Rasa dengan angan lepasan dahaga
Dahaga karena aku dan istri bergantian memangkunya
Memangkunya, mendekapnya, menciumnya dengan jawaban-jawaban kehangatan cinta

Aku semakin ingin dekat dengan kenyataan masa depan itu