Sekumpulan mahasiswa tengah makan di sebuah restoran ternama
di kota padang. Di antara mereka masih ada yang gugup lantaran baru kali
pertama masuk dan mencicipi makanan ala orang kaya tersebut. Maklum mahasiswa kan
biasanya dalam memenuhi perutnya cukup dengan makan mie rebus atau beli nasi
sayur saja plus rokok sebatang terus kenyang.
Makanan yang dihidangkan di restoran makannya pakai alat,
yakni sendok, garpu, atau pisau. Nah ada salah seorang mahasiswa yang tidak
biasa pakai alat makan tersebut. Ia begitu asing makan bila harus pakai sendok
dan garpu.
“Ndak pueh wak rasonyo do,” begitu pengakuan Tambudin kepada
temannya.
Tambudin pun langsung menyuap makanan yang telah tersaji.
Cuma masalahnya ia tidak mencuci tangan terlebih dahulu ketika menyuap
santapannya itu. Cukup dengan bismillah kemudian batutuah melumat segala
yang ada di atas meja. Entah lapar atau memang lapar sekali si Tambudin ini.
Selang beberapa saat kemudian acara makan-makan pun selesai.
Tambudin sebagai urutan pertama selesai. Kayaknya sistem lulur saja. Tidak ada
istilah kunyah- mengunyah. Mungkin kalau bisa berbicara lambungnya, tentu akan
keluar sumpah serapah kepada Tuannya karena harus kerja rodi setiap hari
mencerna setiap makanan yang langsung dilulur sang Tuan.
Setelah makan ia pergi ke belakang. Kemudian ia kembali ke
tempat duduk. Ia terlihat mengelap tangannya dengan kain lap yang ada di meja.
Ternyata ia tidak mencuci tangannya lagi selepas makan.
Teman dekatnya yang tahu dengan perangai si tambudin pun heran.
“baa latona paja ko ko,” katanya dalam hati.
Kemudian bertanya, “hoi yuang baa ndak cuci tangan ang ko.
Kumuah nah ang mah.”
Si Tambudin langsung melirik kiri kanan. Ia dekatkan kepalanya
kepada temannya itu. Seraya memelankan suara ia berujar, “aden ndak tahu tempat
cuci tangannyo do.”
“lah sudah wak.”
09/11/2014
No comments:
Post a Comment